Sabtu, 08 Januari 2011

Halaqah

Halaqah - Liqa

Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan minhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan, halaqah disebut juga dengan mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.

Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jama’i). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).


Biasanya peserta halaqah dipimpin dan dibimbing oleh seorang murobbi (pembina). Murobbi disebut juga dengan mentor, pembina, ustadz (guru), mas’ul (penanggung jawab). Murobbi bekerjasama dengan peserta halaqah untuk mencapai tujuan halaqah, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter da’i (takwinul syakhsiyah islamiyah wa da’iyah). Dalam mencapai tujuan tersebut, murobbi berusaha agar peserta hadir secara rutin dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan halaqah agar tetap produktif untuk mencapai tujuannya.

Halaqah sekarang ini – dan insya Allah di masa datang – menjadi alternatif sistern pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk muslim berkepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyah). Hal ini dapat terlihat dari hasil pembinaannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim yang serius mengamalkan Islam. Jumlah mereka makin lama makin banyak seiring semakin bertambahnya jumlah halaqah yang terbentuk di berbagai kalangan.

Kini, fenomena halaqah menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran halaqah yang pesat tak bisa dilepaskan dari keberhasilannya dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertaqwa kepada Allah SWT, saat ini halaqah menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merakyat. Tanpa melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang ingin mengikuti halaqah tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.

Keberadaan halaqah sangat penting untuk keberadaan umat Islam itu sendiri. Dengan terbentuknya kader-kader Islami melalui sistem pendidikan halaqah, maka di dalam tubuh umat akan lahir orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada kebenaran. Jika jumlah mereka semakin banyak seiring dengan merebaknya sistern halaqah, maka umat Islam akan menjadi ‘sebenar-benarnya umat’. Bukan lagi sekedar bernama ‘umat Islam’ tapi esensinya jauh dari nilai-nilai Islam seperti yang kita saksikan saat ini.

Dengan merebaknya sistem pendidikan halaqah proses pembentukan umat yang Islami (takwinul ummah) akan mengalami akselarasi, hingga – Insya Allah – umat yang benar-benar Islami akan menjadi kenyataan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini akan berdampak pada kehidupan manusia secara menye1uruh yang lebih berpihak pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Merebaknya halaqah juga bermanfaat bagi pengembangan pribadi (self development) para pesertanya. Halaqah yang berlangsung secara rutin dengan peserta yang tetap biasanya berlangsung dengan semangat kebersamaan (ukhuwwah Islamiyah). Dengan nuansa semacam itu, peserta belajar bukan hanya tentang nilai-nilai Islam, tapi juga belajar untuk bekerjasama, saling memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap aturan yang mereka buat bersama, belajar berdiskusi, menyampaikan ide, belajar mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi. Semua itu sangat penting bagi kematangan pribadi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya, yakni sukses di dunia dan akhirat.

Umat Islam akan mengalami kerugian yang besar jika sistern halaqah tidak berkembang dan punah. Hal ini karena halaqah merupakan sarana efektif untuk melahirkan kader-kader Islam yang tangguh dan siap berkorban memperjuangkan Islam. Bahkan, mungkin dapat disebut, jika sistern halaqah tumpul dan mandul, maka umat akan mengalami situasi lost generation (kehilangan generasi pelanjut) yang berkarakter Islami.

Pentingnya mempertahankan sistern halaqah dalam mencetak kader-kader Islam yang tangguh sudah teruji dalam perjalanan panjang kehadiran halaqah di berbagai negara. Apalagi sampai saat ini para mufakir (pemikir) da’wah juga belum dapat menemukan sistem alternatif lain yang sama efektifnya dalam mencetak kader Islam yang tangguh seperti yang telah dihasilkan oleh halaqah. Bahkan yang terjadi sebaliknya, kini semakin banyak para da’i dan ulama yang mendukung tarbiyah mela!ui sistem halaqah. Sebagian dari mereka bahkan menulis buku yang menganalisa kehandalan sistern halaqah/usroh dalam mencetak kader-kader Islam. Termasuk menganalisanya dari sisi syar’i, sejarah dan sunnah Rasul, Salah seorang pemikir da’wah, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, mengemukan pendapatnya tentang sistern halaqah yang tak tergantikan: “Tarbiyah melalui sistern halaqoh merupakan tarbiyah yang sesungguhnya dan tak tergantikan, karena dalam sistem halaqoh inilah didapatkan kearifan, kejelian dan langsung di bawah asuhan seorang murobbi yang ia adalah pemimpin halaqoh itu sendiri. Sedang program-programnya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang diatur dengan jadwal yang sudah dikaji sebelumnya".

Dinamis dan produktif

Seperti diketahui, saat ini kita dapat menjumpai fenomana maraknya halaqah di mana-mana. Baik itu di kampus, sekolah, kantor, pabrik, masjid, maupun di rumah-rumah penduduk. Ini bukan hanya fenomena yang terjadi Indonesia, tapi juga di negara-negara Islam lainnya. Fenomena maraknya halaqah (di beberapa kalangan disebut juga dengan usroh, mentoring, ta’lim, tarbiyah, pengajian kelompok, dan lain-lain), merupakan fenomena yang wajar. Seiring dengan makin banyaknya orang yang kembali kepada Islam. Halaqah diyakini oleh mereka yang mengikutinya sebagai sarana yang efektif untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara rutin dan konsisten.

Dahulu, halaqah lebih banyak berjalan secara diam-diam, bahkan rahasia. Namun saat ini, bersamaan dengan datangnya era reformasi, halaqah menjadi sesuatu yang inklusif dan terbuka. Semua orang Islam bisa mempelajari dan mengikutinya, tanpa ada amniyah (rahasia informasi) yang banyak seperti dulu lagi. Walau begitu, ciri khas halaqah tetap dipertahankan, yaitu peserta yang dikelompokkan menurut tingkat pemahamannya terhadap Islam, jumlah peserta yang dibatasi, tetap, dan tidak berganti-ganti. Dipimpin oleh seorang murobbi, berlangsung rutin, dan dengan materi terpadu.

Pentingnya halaqah meningkatkan produktivitasnya dan berjalan secara dinamis serta menggairahkan tak perlu dipertanyakan lagi. Sebab secara fitrah, manusia memang tidak suka ‘berjalan di tempat’ dan berada dalam suasana menjemukan. Mereka tak akan betah berlarna-lama dalam suasana seperti itu. Padahal di halaqah kita dituntut untuk betah berlama-lama. Hal ini terkait dengan tujuan halaqah sebagai sarana pembelajaran Islam seumur hidup dalam rangka membentuk muslim paripurna. Disinilah letaknya urgensi mengapa halaqah perlu senantiasa meningkatkan produktivitasnya dan meningkatkan suasana yang menggairahkan.

Kamis, 23 Desember 2010

IZZATUL ISLAM TEKAD

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini, darah ini sepenuh ridho di hati

Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran, siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya
Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi Rabbi

Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Mengoyak dan menumbang kezaliman

Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi Rabbi

Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan

Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah padam
Tuk arungi dakwah ini, jalan panjang

Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi Rabbi

Selasa, 21 Desember 2010

Sahabat,





Ada masanya,

Ketika menghadapi peluang baru,

Kita terdiam terpaku.Kita bertanya pada diri sendiri,

Mungkinkah aku melakukannya?

Bisakah aku melakukannya?

Mampukah aku?



Kita berbicara dengan sisi lemah kita.

Bicaralah pada sisi kreatif yang kuat.



Hmm...

Aku penasaran,

Bisa nggak ya, aku melakukannya?

Wow... jika aku bisa...

Hmm...



Selalu ada dua sisi di dalam diri kita.

Wujud nyata, keadilan dan kasih sayang-Nya.



Tetap semangat!

By: No Name

Senin, 20 Desember 2010

Kepada saudara-saudaraku yang ana cintai…

Memang belum lama aku tertarbiyah.Aku juga belum lama mengenal dunia dakwah.Hanya baru sebatas ini yang aku tahu.Tapi aku selalu ingin tahu dan ingin menambah pengetahuanku.

Aku sering berpikir kenapa ukhuwah diantara kita semua terasa amat kurang.Bukan apa-apa,tapi bukankah sudah seharusnya ukhuwah kita lebih kentara dibandingkan dengan teman-teman yang belum mengenal dunia dakwah.

Pengetahuanku masih dangkal saudaraku.Ketahuilah itu.Tapi api semangatku berkobar hebat.Itu yang kadang membuatku miris.Kalian yang lebih paham kadang semangatnya lebih loyo dariku.Aku tidak menuntut kalian untuk selalu jadi yang terdepan.Setidaknya kritis dan responsiflah terhadap keadaan di sekitar antum.

Aku iri akhi dengan ukhuwah para sahabat Rasulullah.Kenapa kita tidak bisa seperti itu ya akhi, setidaknya mendekati itulah.Akhi bukankah ukhuwah kita juga sama-sama direkatkan atas dasar kesamaan akidah,sama dengan para sahabat Rasul?Kalau mereka bisa harusnya kita juga bisa.Aku tahu bahwa mereka adalah generasi terbaik umat ini.Lantas apakah kita tidak bisa mendekati tingkat prestasi mereka,meskipun tidak bisa mencapai apa yang mereka capai?jawabnya bisa akhi,hanya mungkin kita yang belum mau atau belum berpikir ke arah sana.Mereka adalah teladan kita akhi setelah Rasulullah.

Ayo kita tata kembali barisan kita.Agar dakwah ini makin kokoh.Kobarkan semangatmu akhi..Allahu Akbar…..!!!